Senin, 06 Oktober 2014

Pengantar Bisnis Informatika (Tugas1) - Tentang First Media

Sejarah Dan Profil First Media
  



PT First Media Tbk (dahulunya PT Broadband Multimedia Tbk), perusahaan ini diperkenalkan pada 6 Januari 1994, didasarkan pasa Notarial Deed no 37 sebelum Siti Safariyah S.H digantikan oleh B.R.AY. Mahyastoeti Notonagoro, S.H, Notaris di Jakarta, dibawah nama dari PT Safria Ananda. Broadband Multimedia mulai memasarkan diri secara komersial dengan merek dagang Kabelvision, yang diikuti pada tahun-tahun berikutnya dengan peluncuran Digital1 dan MyNet.


Pada 16 Juni 2007, Broadband Multimedia mengganti namanya menjadi First Media, sekaligus meluncurkan identitas dan merek baru sebagai penyedia layanan "Triple Play". Kabelvision dan Digital1 disatukan di bawah produk HomeCable, sementara MyNet menjadi FastNet.

Pada akhir Agustus 2007. Grup Lippo mengumumkan kucuran investasi sebesar $650 juta selama empat tahun kedepan kepada First Media. Kucuran dana tadi akan diinvestasikan keberbagai layanan pengembangan konten dan belanja internet, TV kabel, HDTV, akses pita lebar, layanan nirkabel, fasilitas pentimpanan data, serta layanan telepon. Dalam kucuran dana tersebut, Grup Lippo menggandeng perusahaan Shanghai Media Entertainment Group (melalui anak perusahaan STR),Cisco, dan Motorola untuk pembangunan jaringan serta pembiayaan proyek tersebut.

Perusahaan ini telah diikat oleh layanan ketetapan yang terdahulu melalui sebuah jaringan komunikasi broadband, dan distribusi bermacam-macam signal elektronik melalui pendapatan yang sekarang ini diperoleh dari distribusi program televisi di Jakarta, Bogor, Bekasi, Surabaya, dan Bali.

Perusahaan bekerja sama dengan PT Link Net, cabangnya menyediakan layanan internet broadband  kecepatan tinggi melalui jaringan perusahaan, dimana sekarang ini menghasilkan pendapatan dari koneksi internet broadband di Jakarta, Tangerang, Bekasi, dan wilayah Surabaya. Perusahaan berdomisili di Gedung Citra Graha lantai 4, Jln. Gatot Subroto Kav 35-36 Jakarta. Perusahaan memulai operasinya pada 1 Maret 1999.

Perusahaan secara langsung mengakusisi beberapa perusahan melaui cabang-cabangnya: PT Margayu Vatri Chantiqa, PT Ayunda Prima Mitra, PT Link Net, PT First Media Production, First Media News, dan PT First Media Television.




Informasi Bidang Teknologi First Media

Saat ini First Media memiliki dan mengoperasikan teknologi jaringan kabel Hybrid Fiber-Coaxial (‘HFC’) dua arah pada frekuensi 870 Mhz yang memiliki ujung terminal di Jakarta (Citra Graha), Bali(Denpasar), dan Surabaya (Gubeng). Digitalisasi memungkinkan kompresi data yang lebih besar untuk ditransmisikan melalui kabel, dengan demikian meningkatkan kapasitas kabel untuk melakukan transmisi internet berkecepatan tinggi, hingga mampu mentransmisi 100 saluran TV secara serempak, serta volume data yang sangat besar yang diperlukan demi kelancaran aplikasi beberapa industri.


Luasnya First Media jaringan Metro Etherneta  dan mengelilingi sebagian besar wilayah Jakarta, melintasi semua wilayah pusat bisnis besar, membuat First Media menjadi provider utama atas semua solusi komunikasi untuk transfer data kecepatan tinggi dan aplikasi internet untuk perusahaan melalui semua wilayah. Didukung oleh kurang lebih 3.800 km kabel fiber optik.
       
Selanjutnya, layanan data komunikasi telah disebarkan oleh generasi selanjutnya dari jaringan intelejen yang mana terkenal sebagai Multiprotocol Label Switching (MPLS) yang mengirimkan layanan jarak yang luas dengan kualitas terjamin melaui setiap saluran fiber optik yang disewakan. Semua layanan ini termasuk dari Pusat Pemulihan Bencana, layanan Jaringan Area Penyimpanan, Layanan Aplikasi Real Time, Peering Services, Inter-Branch Connection Services, Video Streaming and Voice Services, dan masih banyak lagi.
       
Sejak 2002, layanan komunikasi data dari First Media, DataComm, telah dipercaya sebagai satu-satunya provider Jakarta Automated Trading System-Remote Trading (JATS-RT) untuk Indonesia Stock Exchange and Exchange Members.
       
Pada tahun 2006, First Media secara bertahap mulai mengalihkan jaringan kabelnya menjadi digital, dan pada akhir 2007 telah dilaksanakan hingga 70% dari keseluruhan jaringan, dan diperkirakan akan selesai pada tahun 2008. Pada akhir tahun 2007, jaringan kabel First Media menjangkau 3.700 kilometer, dengan kabel ke rumah sejumlah 400.000 dan penetrasi lebih dari 35% dan terus bertambah.

Komunikasi Data menyediakan layanan untuk pelanggan perusahaan dari sektor yang bermacam-macam. Seperti pada akhir 2009, layanan komunikasi data First Media telah digunakan oleh 2660 pelanggan perusahaan dengan total jumlah 500 links koneksi dalam Greater Jakarta Area.

Peralatan penerima memakai alat pengubah (converter) bermerek Eastern Electronics tipe se-830. Alat ini berfungsi untuk mengubah signal digital menjadi signal audio analog dan signal video analog. Alat pengubah ini juga dilengkapi kartu pintar (Smart Card) untuk sistem akses dengan kondisi tertentu (Conditional Access System/CAS) dari Nagravision. Untuk menghubungkan dengan TV dipergunakan penghubung/konektor RCA atau S-Video. Pengubah dapat pula dihubungkan ke sistem pengeras suara (amplifier) dengan memakai penghubung SPDIF.

Ruang Lingkup
Produk First Media disebut Triple Play merupakan layanan berbasis teknologi pita lebar digitalmencakup jasa akses internet berkecepatan tinggi tanpa batasan yang selalu menyala (FastNet), TV kabel digital (HomeCable), dan komunikasi data berkecepatan tinggi dan berkapasitas besar untuk aplikasi bisnis dan komersial (DataComm).

·   FastNet
FastNet (sebelumnya bernama MyNet) adalah penyelenggara jasa internet melalui jaringan kabel pita lebar. FastNet memiliki keunggulan dalam hal harganya yang murah dibanding dengan penyelenggara jasa internet lainnya karena menawarkan harga yang tetap untuk layanan yang selalu menyala selama 1 bulan.

FastNet tidak menggunakan saluran telepon dalam menyediakan akses internet tetapi menggunakan kabel pita lebar. Hal ini menyebabkan jangkauan areanya tidak seluas ADSL yang menggunakan saluran telepon karena kabel pita lebar harus ditunjang dengan penggunaan fiber optik yang masih jarang digunakan di Indonesia. Area yang sudah terjangkau sampai saat ini adalah wilayah Jabotabek dan Surabaya.

Paket FastNet dikemas dalam beberapa paket sebagai berikut:

·   HomeCable
HomeCable adalah stasiun televisi kabel berlangganan. HomeCable merupakan merek dagang baru untuk 2 produk First Media sebelumnya, Kabelvision dan Digital1. Selain saluran televisi, HomeCable juga menyediakan saluran radio.

Ada 70 channels yang tersedia menunjukan keseimbangan dari hiburan, olahraga, pendidikan, keluarga, dan berita untuk setiap anggota dari keluarga. Dan dengan teknologi terbaru dari penyiaran televisi melalui HBO HD,ddddd ESPN HD, Fashion TV HD, ASN HD, dan yang lainnya untuk menjadikan First Media sebagai yang pertama di Indonesia yang mengelola untuk membawa hiburan bagi setiap rumah tangga sampai pada ketajaman yang tinggi melalui First Media HD dengan biaya Rp 315.000/ bulan dan 100 channels yang dapat dinikmati.
HomeCable Ultimate
Rp. 315,000/month
Channels: 100

v     First HD
First HD menjadi layanan televisi kabel pertama di Indonesia yang menggunakan format High Definition (HD). Layanan First HD diluncurkan pada 1 September 2010. Dengan biaya tambahan sebesar Rp100.000, pelanggan akan mendapatkan 2 saluran HD yaitu ESPNHD dan HBOHD.

Saat ini HomeCable mengembangkan teknologi digital dalam menyiarkan salurannya. Teknologi ini sebelumnya dipergunakan oleh Digital1. Sinyal digital yang digunakan memakai standar Digital Video Broadcasting (DVB).

Kabelvision (pendahulu HomeCable) menggunakan sistem kabel yang tersambung langsung pada antena di atas rumah. Dari satu sambungan itu, semua televisi yang tersambung dengan antena dapat menikmati layanan TV berlangganan. Sejak 2006, Kabelvision tidak lagi mengembangkan sistem analog, dan secara perlahan mengganti jaringan analog yang sudah ada menjadi digital. Setiap televisi harus mempunyai masing-masing satu dekoder yang berfungsi menerima sinyal dari pusat untuk mengirimkannya kepada televisi yang digunakan untuk HomeCable.

Omset
First Media membukukan pendapatan sebesar Rp 833 miliar ditahun 2010 atau naik 15,2% dari hasil 2009. Kemudian perseroan juga mencatatkan kenaikan laba bersih cukup signifikan sebesar 27,9% dari Rp 33 miliar menjadi Rp 42 miliar ditahun 2010.

Selain kinerja keuagan yang positif, perseroan juga melaporkan kesuksesan dari bisnis internet broadband dan pertumbuhan sektor tv kabel. Dimana pendapatan service internet broadband meningkat secara signifikan dari Rp 332 miliar menjadi Rp 409 miliar pada tahun 2010.

Kemudian, untuk basis pelanggan First Media bertambah sebanyak lebih dari 58 ribu pelanggan baru. Keberhasilan menunjukkan pertumbuhan sebesar 20% dengan total pelanggan mencapai 334 ribu pelanggan dibandingkan dengan hasil tahun lalu. Peningkatan ini terdiri dari pertumbuhan pelanggan TV kabel yang signifikan dari 132 ribu menjadi 172 ribu, sementara pelanggan internet broadband melonjak naik dari 154 ribu menjadi 172 ribu.

First Media, lanjutnya, tengah berada dalam posisi strategis untuk memperbesar nilai perusahaan dengan cara meningkatkan dan memfokuskan pada layanan bisnis internet boradband di tahun 2011. Kinerja perseroan yang baik dihasilkan dari strategi efisiensi pembiayaan melalui sebuah pemilihan kerjasama dengan stasiun televisi penyedia siaran yang cermat dan strategi menambah bandwidth yang efektif memberikan dampak pada efisiensi biaya serta naiknya mutu layanan.

Target Pendapatan Rp 1 Triliun 2011
Sebelumnya, perseroan menargetkan pendapatan konsolidasi pada 2011 sebesar Rp 1 triliun. Target tersebut diyakini teralisasi seiring dengan beroperasinya teknologi layanan jaringan nirkabel berkecepatan tinggi atau WiMax (Worldwide Interoperability for Microwave Access)

Direktur Keuangan First Media, Irwan Djaja pernah bilang, target pendapatan tahun depan bisa teralisasi dan bahkan lebih dari Rp 1 triliun. Dimana target tersebut akan didukung dengan beroperasinya teknologi layanan WiMax diluar layanan TV Kabel, internet dan media.”Dengan telah beroperasinya teknologi WiMax, pendapatan tahun 2011 bisa mencapai lebih dari Rp1 triliun,”paparnya.

Menurutnya, perseroan siap mengeluarkan dana US$ 100 juta untuk pengembangan layanan WiMax ini. Dana tersebut berasal dari kas internal vendor financing serta pinjaman perbankan. Target pendapatan pertama ditahun 2010 sebesar Rp 825 miliar atau tumbuh 14-16% dari tahun lalu. Dengan WiMax akan membuat pendapatan perseroan tumbuh lebih besar dan diharapkan bisa atas Rp 1 Triliun.

Dengan beroperasinya layanan tersebut, perseroan akan memperoleh tambahan pendapatan di luar layanan TV kabel, internet, media, dan lainnya yang telah digarap perseroan saat ini. Hanya saja, belum bisa dipastikan berapa besar konstribusi WiMax bagi pendapatan konsolidasi perseroan.

Hingga akhir 2010, perseroan menargetkan bakal memperoleh pendapatan Rp825 miliar, naik 14,2% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp722,4 miliar. Sedangkan per September 2010, KBLV telah memperoleh pendapatan sebesar Rp605,8 miliar, tumbuh 14% dibanding Rp531,2 miliar pada September 2009.

Sementara, laba bersih September 2010 KBLV tercatat sebesar Rp27 miliar, turun dibandingkan periode yang sama tahun 2009 sebesar Rp46,6 miliar. PPenurunan disebabkan peningkatan beban operasional dengan adanya beban tambahan dari operasional Wimax.

Pada tahun pertama, perseroan membidik jumlah pelanggan sebanyak 100-150 ribu jaringan terpasang. Dalam 3 tahun ke depan, akan ada 1 juta pelanggan WiMax.

Selain itu, KBLV juga mengembangkan teknologi video on demand. Teknologi ini rencananya mulai tahun depan setelah WiMax. Rencana ini dilakukan sebagai antisipasi perseroan terhadap cepatnya pertumbuhan teknologi serta kebutuhan masyarakat saat ini.

KBLV sampai saat ini masih mengandalkan layanan TVberbayar serta jaringan internet. Dua lini usaha ini memberi kontribusi  82% terhadap pendapatan perseroan. Untuk layanan TV berbayar, perseroan akan menambah jaringan rute rumah yang dilewati (home pass). "Tahun depan kami harapkan bisa bertambah 200.000 hingga 250.000 home pass," tegasnya.

Teknologi WiMAX merupakan layanan broadband internet nirkabel generasi ke empat (4G). Di Indonesia, teknologi internet nirkabel ini beroperasi di spektrum pita frekuensi 2,3 GHz dengan jangkauan lebih luas dan kemampuan transmisi lebih cepat yakni sekitar 75 Mbps.



Sumber:
Comments
0 Comments
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar